Umi dan Farhan: Tentang Nick

Standard

“Allahuakbar..Allahuakbar..” Suara adzan berkumandang dari ponselku, terdengar menggema namun kalah dengan angin. Pukul 04:30, waktu shubuh tiba. Saat aku membuka mata, aku tertidur di lantai 5 dorm, diatas kursi kayu dan dikelilingi oleh bunga croisant warna warni. Bintang-bintang masih siaga, menanti pagi. Langit berubah gradasi menjadi ungu dan biru. Angin bertiup dingin, saat aku ingin bangun, aku bersin-bersin dan menggigil.

“Kamu tidur di sini sejak semalam?” Nick yang duduk di pinggir balkon tampak tenang, berbicara tanpa menoleh kearahku.

Aku melotot, kaget melihat Nick yang berupa bayangan karena diatas cukup gelap. “Eh..Ya.” Jawabku sambil mencoba berdiri dan mengumpulkan kesadaran. Aku melihat ada 4 kaleng bir di sampingnya, dan dia kelihatannya sedang merokok. “Minum lagi, ya?” Tanyaku pada Nick yang sedang asyik menghisap rokoknya, melihat dirinya yang sepertinya sedang mencoba menikmati pemandangan kota yang hampir pagi.

“Ya, kepalaku pusing memikirkan banyak hal, jadi aku minum saja. Ditambah, aku tidak bisa tidur semalam.” Suara Nick bagai bersatu dengan angin subuh, terdengar mengalun dan lambat.

“Memangnya harus dengan minum?” Tanyaku bertolak pinggang, meski Nick tidak melihatku. Akhirnya dia menoleh dan melihatku.

“Untukku, tidak ada cara lain.” Jawab Nick, kembali memandang langit pagi dengan gradasi bagai guratan cat minyak di atas kanvas. Nick seorang atheis, dia dibesarkan dari keluarga yang broken home, kedua orang tuanya bercerai saat Nick masih sekolah dasar, ibunya beragama katholik tapi ayah Nick sama dengannya, sama-sama atheis. Nick akhirnya bergantian diurus kedua orang tuanya, Ayahnya dahulu adalah pengangguran, sementara Ibu Nick, adalah seorang Dosen yang cerdas dan mengajar di Universitas ternama di Chicago. Setiap akhir pekan Ayah Nick menjemput Nick untuk menghabiskan minggu bersama, dia bercerita kalau dahulu sering diajak berkemah, memancing dan bermain bowling saat usianya menginjak 13 tahun.

Ayah Nick sudah meninggal, saat usianya 20 tahun, tepat saat dia diterima di Universitas untuk menjalani program Biologi. Meski dari keluarga Broken Home, kedua orang tua Nick tetap harmonis, Ibu Nick sekarang menikah dengan seorang pensiun U.S. Army dan tinggal di Chicago. Nick jarang mengunjungi mereka, karena menurutnya, ayah tirinya sangat kaku dan menyebalkan.

“Apa kau punya waktu?” Tanya Nick, suaranya masih selembut angin. Lambat dan tenang.

Aku melihat jam di layar ponsel. 04:38 hampir 10 menit aku berdiri di belakang Nick, “Ya..” Jawabku pelan, “Tapi aku harus shalat shubuh terlebih dahulu.” Jawabku sambil merapikan pakaianku yang terlihat kusut. Aku menoleh ke pot yang dihinggapi kupu-kupu biru tadi malam, dan dia sudah menghilang, serbuk-serbuk milenium nya masih tersisa di kelopak bunga croissant kuning.

“Kau tidak ada course hari ini, kan?” Tanya Nick lagi, dia membalikan badannya dan menatapku.

“Sepertinya tidak ada, tapi, aku ingin ke perpustakaan dan ke swalayan, membeli beberapa roti dan alat mandi.”

Nick mengangguk, “Baiklah, temui aku setelah sholat shubuh.”

Aku berjalan menuju pintu, turun ke kamar dan melaksanakan shubuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s