Umi dan Farhan: Bukannya tak Sendiri

Standard

“Sudah packing keperluan dan barang-barang untuk disana, han?” Ucap Umi yang berdiri di bingkai pintu, melihatku mengemas barang-barang ke dalam koper.

Aku berdiri, mengelap sedikit keringat yang berkumpul di dahi. “Insyaa Allah sudah, mi.”

Pukul 08:00 malam, diluar sedang cerah. Mungkin mengingat sebentar lagi bulan puasa akan menjelang. Kurang dari satu minggu lagi.

Pengumuman kelulusan Universitas sudah lebih dari dua bulan lalu. Aku dinyatakan diterima di salah satu Universitas di Kota Kecil di Banyumas bernama kota Purwokerto. Kota yang aku masih belum bisa membayangkannya. Aku selalu dengan mudah menemukan gambar kota dan potret dalamnya melalui pencarian google, tapi tidak dengan Purwokerto. Kudengar, kota ini tidak memiliki bandara jadi transportasi yang ada hanya kereta dan bis. Selain itu, tidak ada banyak angkutan umum, kalaupun ada, hanya beroperasi sampai jam 5 sore.

“Lalu nanti disana mencari kos-kosan dengan siapa?” Umi memainkan jemarinya, kemudian berjalan mendekat dan duduk disampingku diatas kasur. Aku menghela napas sedikit, menghitung beberapa pakaian yang kira-kira aku butuhkan selama disana, kemudian aku duduk di samping Umi.

Aku menatap mata umi dalam, melihat setiap gurat kecantikan wanita yang selalu aku cinta pertama kali, yang selalu menjadi cinta pertama dalam hidupku. Alis umi yang tebal namun ramping, mata hitam kebiruan yang sangat jernih, meski kulit umi sekarang mulai keriput di usianya yang hampir 40 tahun sekarang. Umi memegang pundakku dan membiarkan dirinya mendekap kepalaku. Aku dapat merasakan harum melati dari tubuh umi, dan kehangatannya tetap sama.

“Puasa sekarang, pasti sepi han, cuma ada Umi sama Ayah.” Ucap Umi lirih, aku terenyuh dalam dekapan umi. Mencoba menerima kenyataan bahwa, inilah pertama kalinya aku pergi merantau, pergi dalam waktu yang cukup lama. Dan, ini pertama kalinya bulan Ramadhan akan aku habiskan di tempat lain, tidak bersama Ayah dan Umi di rumah. Semuanya akan sangat berbeda, dan aku pasti akan merasa sendiri.

Aku menarik napas, mencoba mengumpulkan kesadaran dari bayang-bayang ketakutan merantau. Padahal dulu, aku sendiri yang menginginkan untuk bisa mandiri. “Farhan juga sedih, mi, Farhan agak takut, Farhan belum bisa membayangkan bagaimana nanti merantau sendirian.”

Umi mengusap pundakku perlahan, “Farhan disana kan tidak sendiri, ingat pesan Umi apa, kan?” Ucap Umi, “Jangan sampai melupakan Allah, sayang.” Kalimat Umi menentramkan. Aku pasti akan merindukan malam-malam dimana Umi membaca waqi’ah dengan suara merdunya, atau mencium bau tempe goreng yang menyusup lewat ventilasi kamarku saat waktu makan malam hampir tiba.

***

Matahari baru saja tenggelam, disambut dengan barisan lampu warna-warni kota yang hampir tidak pernah tertidur. Dari lantai 5 dorm Universitas, aku menyaksikan barisan burung walet membentuk formasi V, bersiap hijrah kembali ke tempat peristirahatan mereka. Angin berhembus sejuk, meniupkan bunga matahari berwarna kuning yang tersimpan rapi dalam pot-pot kecil. Kelopaknya tampak kesulitan menahan angin, satu helai terbang bersamaan dengan malam yang menghitam.

Aku menutup buku, duduk diatas kursi kayu lantai 5 dorm yang sebenarnya tempat menjemur bagi mahasiswa-mahasiswa lain disini. Nick biasa membaca materi untuk ujian, atau sekedar duduk-duduk menikmati kukis dan kopi di sore hari. Bahkan dia sering menghabiskan malam melihat bintang. Sekarang, aku tahu mengapa dia begitu betah diatas sini. Kalau malam cerah, langit hampir tak berawan. Bintang bermunculan seperti plankton yang bercahaya di lautan. Biru terang seperti kristal. Tak ada suara apapun kecuali angin, yah, meski ada sedikit suara-suara aktivitas. Tapi tengah malam suara itu malah menjadi penyejuk hati siapapun yang merasa gundah.

Aku jadi ingat saat dahulu menghabiskan senja bersama umi di padang rumput rahasia kami berdua. Meski tak sama. Tapi, aku jadi merindukan masa dimana aku menemukan ikan yang terjebak dalam genangan air dan mengembalikannya ke danau. Atau memetik alang-alang dan mengumpulkannya sebagai hiasan rumah, meski akhirnya malah membuat rumah menjadi kotor.

Aku kadang memikirkan perkataan umi dahulu, bahwa, aku memang tak pernah merasa sendiri. Ada kasih sayang sang pemilik hidup, yang selalu mengawasi dimanapun diriku berada. Yang mencintaiku, lebih dari pada cinta Umi dan Ayah. Itu yang Umi bilang. Lalu aku bertanya pada diriku sendiri, sudah seberapa sering aku membaca musaf akhir-akhir ini. Dalam seminggu, aku mungkin hanya menghabiskan waktu 5 menit untuk sekedar membaca dua atau tiga lembar saja, kemudian aku melanjutkan membaca materi untuk kuliahku.

Hatiku bergetar. Dengan cara itukah aku memberikan rasa syukurku pada sang pemegang takdir?

Aku melihat satu kupu-kupu, tampaknya dia tersesat, dan tertinggal dari kawannya. Mencoba berlindung pada satu tangkai bunga croisan ungu yang hampir gugur karena waktu mekarnya sudah habis. Mencoba menahan dingin angin malam sendirian. Warnanya yang cerah hampir pucat terkena bias malam. Biru dengan corak hitam membentuk mozaik yang membuatnya tampak menyala saat malam. Mungkinkah, ini kupu-kupu yang disebut kupu-kupu malam itu? Yang seringkali bermigrasi pada malam hari yang sering diceritakan oleh Alba?

Tapi, mengapa dia sendirian? Apakah dia tersesat dari kawanannya?

Aku berjalan mendekat, sekitar 50 sentimeter jaraknya dengan pot bunga dengan kupu-kupu biru itu. Aku melihatnya mengepak sayap dengan perlahan, matanya tampak begitu mungil dan redup. Sayapnya mengepak sesekali dan kemudian berhenti. Dia menutup kedua sayapnya, menyisakan serbuk-serbuk millenium biru yang tampak begitu bercahaya berguguran menghujani kelopak bunga croisan.

Aku melihatnya lebih dekat, dan sayapnya mulai meluruh. Aku melihat ada robekan pada sayap mungil biru cantiknya itu, tampaknya dia baru saja diserang oleh burung, atau sejenisnya. Aku kurang mengerti. Aku kembali melihat langit yang sekarang menghitam dengan biru. Saat aku membandingkan warnanya dengan kupu-kupu ini, warna mereka tampak sama. Aku menemani kawan mungil yang baru saja kutemukan, tampaknya aku mengerti apa yang membuatnya tersesat sampai kesini. Dia sudah tak mampu terbang, dan kawanannya meninggalkan dia sendiri.

Bukan, bukan sendiri. Ada aku sekarang. Mungkin dia hanya mencari tempat yang nyaman, untuk bisa kembali bertasbih dan bertemu dengan Rabb kami berdua.

Kubiarkan malam semakin larut, menjelang bersamaan dengan bintang yang keluar tanpa tertutup gumpalan awan di langit, memandanginya, dan aku bersyukur, aku memiliki Rabb yang Maha Penyayang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s