Biar Aku Menanti Hingga Senja Menjemput

Standard

Orange. Hitam. Merah. Kuning.

Berbaur dalam satu lukisan 4 Dimensi diantara karya yang tak pernah ada tandingannya. Bahkan angin berisi penuh kehidupan ini tak ada yang mampu untuk menciptakannya. Tetes air hujan penuh gairah tak ada yang mampu untuk menurunkannya. Tanaman itu, kau pikir, siapa yang menciptakannya?

Tak lain hanya sang pemilik hidup.

Disaat senja bergulir, meninggalkan siang seperti hari-hari biasanya. Aku berjalan menyusuri jalan setapak itu, untuk sekedar melepas tas dan merebahkan diri di balik lelahnya hari. Usai menguras tenaga demi ilmu yang tak murah.

Lalu genangan air itu masih menyisakan bayangan awan biru yang terlambat menguning. Tertutup sebagian daun yang meranggas, menyisakan garis-garis artistik.

Satu. Dua. Tiga langkah.

Melewati jalan yang tidak terlalu besar, melawan kepulan asap knalpot yang semakin menebal. Menahan bisingnya suara mesin kendaraan yang bersusulan, membuat telinga tak jarang bisa sakit mendengarnya.

Lalu, aku masih sendiri saja.

Diantara rembesan air hujan yang turun siang ini. Menyisakan sejuk diantara hari yang sempat gersang. Menyisakan air-air sejuk untuk burung yang sejak tadi sudah kehausan. Sejenak berlindung dibalik atap menghindari kuyup. Tapi sepatu sudah terlanjur basah.

Lalu, aku masih sendiri saja.

Menikmati suasana senja yang hampir beberapa menit lagi menyambut. Mata berkeliling di kota Bali yang indah. Berteman hanya dengan cerita sendiri. Berdebat, juga hanya dengan pikiran sendiri.

Lalu, aku memikirkan kamu.

Kamu yang dahulu pernah menjadi yang kudamba. Yang selalu kuidamkan untuk menjadi tangan yang kelak bisa kugenggam dan menggugurkan dosa-dosaku. Karena disetiap benang cinta yang kita rajut, menjadi perhiasan kita dihadapan-Nya.

Yang dahulu, berhijrah demi mengharap sedikit celah untuk bisa masuk ke dalam surga-Nya. Yang sama-sama bersemangat, untuk bisa membangun konblok menuju kebahagian dalam sakinah bersama.

Lalu, ternyata aku masih sendiri.

Sudah kubilang, hanya aku sendiri. Bersama dengan patah-patah kata yang belum tersusun. Bahkan masih seperti teka-teki dalam TTS di koran lama yang sulit untuk dijawab. Padahal, hadiahnya hanya kipas angin.

Satu.Dua. Tiga langkah.

Melewati gang sempit, menerobos becek tanah akibat hujan. Melewati kerumunan anjing liar yang sedang kelaparan menanti kudapan. Melewati pura-pura berhias berbagai macam warna bunga kamboja di kota Bali.

Hanya tinggal beberapa menit lagi.

Senja hampir menjemput, dan tempat beristirahat melepas penat dibalik semua yang membingungkan ini.

Masih dalam pencarian. Meski kadang tetap bingung.

Akankah benar memang itu dirimu yang selama ini aku nantikan dalam setiap cerita-cerita masa depan. Yang dahulu, pernah kita rasakan bersama rasa itu yang kita berdua yakin belum saatnya.

Masihkah kita berdua bersabar?

Hah…

Senja. Senja.

Biar Aku menantikan dirimu, hingga senja yang lain nanti menjemput. Akankah kau bersamaku?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s