Karena Doa-Doa bagaikan Kayuhan Sepeda

Standard

Senin, 26 Januari 2015

Hari pertama belajar selesai, aku senang semuanya berlalu dengan tidak terasa dan sangat menyenangkan. Aku selalu membayangkan takut bertemu dengan orang-orang baru, mahasiswa lain dari Universitas berbeda dan aku selalu rendah diri dan takut bahwa ilmu yang aku miliki masih sangat sedikit.

Pukul 08:30 aku berjalan kaki dari kontrakan menuju Laboratorium IBRC Bali, tempat yang dari dulu sangat ingin aku jadikan tempat untuk belajar dan alhamdulillah, berkat karunia Allah, aku berhasil menginjakkan kaki di Bali.

Pagi ini, aku bertemu dengan banyak teman baru, dari UGM dan dari Udayana, Bali. Yang ternyata mereka satu angkatan denganku, angkatan 2012. Mahasiswa dari Udayana ada cukup banyak, sekitar 15 orang, mereka dari Jurusan yang sama denganku yaitu Ilmu Kelautan, sementara dari UGM aku mengenal 3 teman baru dan mereka dari Jurusan Biologi. Senang rasanya menemukan orang-orang yang memiliki minat belajar yang sama, hanya dengan satu topik pembicaraan, kamu langsung bisa begitu sangat akrab, karena hal yang dibicarakan adalah hal yang sama-sama kami minati.

Hari pertama dihabiskan dengan belajar mengenai Prinsip Biologi Molekuler, disusul dengan Lab Work, Ekstraksi DNA hewan dengan menggunakan metode Chelex 10%. Aku sering membaca metode ini dari beberapa skripsi dan jurnal ilmiah dan akhirnya aku mengerti bagaimana metode ini bekerja.

Ketika seseorang bertanya, “Sama siapa aja dari Unsoed?”

Atau, “Kok tahu IBRC, tahu dari mana? Dari dosen?”

Pertanyaan yang sangat-sangat-sangat panjang jawabannya. Hampir beberapa orang menanyakan hal yang sama dan aku menjawab, “Heh, panjang sekali ceritanya.” Lantas mereka tertawa.

Kembali kepada beberapa bulan lalu, Tahun 2014 di Bulan Juni, dimana aku menghadiri sebuah acara super keren yang tidak bisa kuikuti 2 kali berturut-turut, yang membawaku ke sebuah dunia dimana aku semakin mencintai ilmu pengetahuan. Sebut saja Kavli Indonesia-America International Symposium of Science 2014, berlokasi di Medan.

Disinilah aku mulai mengetahui banyak hal, dan aku mulai merasa Allah mencintaiku lebih dari siapapun di dunia ini, karena berangkat dari sinilah aku mulai membangun mimpi-mimpiku yang karam, mimpi yang kubangun sejak SMA namun sempat hilang bersama dengan rasa kecewa.

Lalu aku bertemu dengan sahabat, atau bisa kubilang kawan-kawan jauh yang luar biasa. Aku bertemu Putri, student observer yang bisa kubilang paling menonjol diantara kami semua, dia berasal dari UGM Fakultas Farmasi, aku bertemu Dito nama aslinya Luthfi Muawan dari Fakultas Biologi ITB, Kak Meli dari ITB, Kevin dari Fakultas Hukum UNHAS dan Kak Ali dari IPB yang baru saja lulus dan yang lainnya. Aku menemukan banyak cerita dari mereka dan aku mulai berpikir bahwa, berangkat ke Luar Negeri dalam usia yang sangat dini bukanlah hal yang mustahil.

Sebut saja Dito, sejak SMA dia sudah berkeliling dunia mengikuti Olimpiade Internasional Biologi di Moscow, Jepang, dll yang memberikan dia penghargaan medali emas sehingga mendapat beasiswa penuh di ITB. Dan kau tahu apa? Dito bukan seperti orang kebanyakan, dia memiliki keterbatasan berupa tangan yang hanya bisa digunakan satu saja. Benar, tangan kirinya tidak tumbuh normal seperti anak biasanya, seperti aku. Tapi, hal itu lantas tak membuatnya kehilangan kesempatan untuk bisa maju, sekarang dia sedang menjalani tugas akhir di Jepang setelah mendapatkan rekomendasi dari Jerman mengenai nilai Kerja Prakteknya di pertengahan kuliah dahulu.

Lalu aku mengenal Putri dan Kevin, yang sama-sama mengikuti Harvard MUN di Harvard pada tahun 2012 silam, dan banyak orang lain yang memberikan visi kepadaku, bahwa kau memang harus bergaul dengan orang-orang berbakat seperti mereka untuk bisa menentukan jalan hidupmu sendiri.

***

 Sore itu, setelah kami puas melihat keindahan Danau Toba, aku melihat seorang Professor asal Iran, Professor Ali namanya, Professor muda, satu dari sekian banyak Professor muda lainnya dalam acara tersebut. Aku melihatnya sedang duduk santai di balkon lantai 3 Brastagi Hotel dan Resort, tempat seluruh peserta menginap. Waktu sudah hampir senja, dan aku belum tahu apakah waktu maghrib sudah tiba.

“Excuse me?” Aku mendekat ke pinggir balkon menuju balkon Prof. Ali, kebetulan kamar kami bersebelahan.

Prof. Ali menoleh dan menjawab, “Are you a muslim?” Tanyaku.

“Alhamdulillah, yes, i am a muslim.” Ucapnya menutup buku yang sedang dibacanya.

“Uh, do you know whether it is maghrib already? Because i can’t hear adzan from here?”

“I’m not sure,” katanya, “But, it’s not maghrib yet, i think, because the sun still hang up, maghrib are quite more late in here if i’m not mistaken.” Jawabnya.

Aku mengangguk, “Well, thank’s, and do you know where is the qiblah direction?” Tanyaku lagi.

“No, i don’t know, but maybe you can use the sun’s position as the accordance, see?” Jawabnya. Bisa juga. Kupikir. Pembicaraan kami berakhir. “What is your name again?” Tanyanya kemudian.

“Uh, Rafid, R-A-F-I-D” aku mengejanya, just to make sure he spells my name right. “From Universitas Jenderal Soedirman.”

“What Major?”

“Marine Science.”

“Cool.” Responnya singkat, dia tampak melihat ke pemandangan yang disuguhkan di hadapan kami

10505910_4251858111446_356731908_o

“You know what, you are interested in sharks, right?”

“Yeah, how do you know that?”

“Based on your questions lately,” Oh iya, aku pernah menanyakan sebuah pertanyaan kepada seorang Professor ahli Genetika mengenai rekayasa genetika pada hiu, tapi Professor Ryan tidak mengetahui hal itu. “I have a colleague, his name is Paul, Paul Barber, a Professor from University of California Los Angeles, and he cooperated with Udayana University Bali to create a laboratory which specificly work in biodiversity, i heard that lately they have shark project, perhaps it is the program you were looking for but i don’t know exactly.”

Dari situlah semuanya bermula, Prof. Ali memberikan aku email Paul Barber, dan kami sempat intens bercakap melalui surel sampai akhirnya aku dikenalkan oleh seorang peneliti Junior di sana. Prosesnya sangat panjang, aku hampir melibatkan banyak orang hanya karena ingin sekali belajar di IBRC.

Yah, sekarang aku berada di sini, di Bali, untuk menjemput ilmu yang aku tunggu-tunggu. Keluargaku, Umi, Ayah dan Kakak dan Kakak Iparku yang baru tidak sedikit mengorbankan uang untukku belajar di Bali ini. Dan, aku sangat berharap aku bisa mendapatkan banyak hal, sebanyak keluargaku mengorbankan harta mereka, untukku.

Mungkin aku akan menulis cerita lagi, karena ini baru saja hari pertama di Bali, aku yakin besok akan lebih menyenangkan. Semoga Allah meridho’i usaha dan niat baikku. Aku sangat berharap ceritaku sekarang merupakan sebuah skenario terbaik yang dibuat oleh Sang Pemilik Hidup, yang akan mengantarkan aku pada ending terbaik kehidupan di panggung sandiwara ini. Insyaa Allah.

Aammiin, yaRabb.

10407711_4957416709970_7585018567990279626_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s