Umi dan Farhan: Hujan dan Dingin

Standard

Hujan di luar, turun sejak sore tadi, tidak juga reda bahkan kian menderas. Ayah masih bekerja, padahal malam ini sudah pukul 22:00, aku dan Umi menanti dirumah dengan cemas. Aku duduk di sofa sambil mendengarkan Umi membacakan waqi’ah, surat kesukaan Umi yang selalu dibaca setiap hari, sebelum mengaji dan setelah melaksanakan shalat dhuha di pagi hari. Besok aku akan melaksanakan ujian kenaikan kelas di SD. Kata Umi, surat Waqi’ah adalah surat yang ajaib, yang ketika dibaca, Allah menjamin hamba-Nya terbebas dari kefakiran di dunia semasa hidup dan di akhirat nanti.

Setiap ingin melaksanakan Ujian, Umi selalu menyuruhku membaca surat waqi’ah disetiap selesai shubuh, ini juga merupakan cara yang paling manjur untuk bisa mendapatkan nilai baik dengan ridho Allah.

“Izaa wa qa’atil waaqi’ah..” Suara melantun dari bibir umi yang merah, wajah umi tampak khusyuk, aku tidur di pangkuan umi, tangan kiri umi membelai kepalaku sementara tangan kanannya memegang mushaf. Suara Umi mengalun bersamaan dengan deras air, menjadi satu, berkesinambungan, bahkan sepertinya hujan ikut menari bersamaan dengan qiro’ah Umi malam ini. Aku memainkan jemari kiri Umi yang putih, mencium harum sabun mandi beraroma mawar yang biasa dikenakan Umi.

Hujan semakin menderas, angin bertiup melalui celah-celah ventilasi ruang tengah. Meniupkan dingin dan menerbitkan gigil di mulutku. Gigiku sempat gemeletuk menahan dingin. Dengan segera, Umi melebarkan mukena panjangnya ke tubuhku, dan kembali melanjutkan bacaan.

“Dingin ya?” Tanya Umi menghentikaan bacaan qur’annya, aku mengangguk sambil bersembunyi di balik mukena Umi. Hangat tubuh umi bisa aku rasakan, “Ayah juga pasti kedinginan di luar.” Ucap Umi cemas, “Farhan bisa bacain doa untuk ayah?”

Aku mengangguk, “Doanya seperti apa mi? Farhan tidak hapal, kalau doa untuk umi dan ayah farhan hapal”

Umi tersenyum, “Iya, doa untuk umi dan ayah dan juga doa farhan sendiri.”

“Farhan bikin sendiri doanya, mi? Pakai bahasa Indonesia tidak apa-apa ya mi?”

Umi mengangguk.

Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, sayangi mereka sebagaimana mereka menyayangiku. Ya Allah, ayah sedang bekerja, selamatkanlah ayah di perjalanan supaya tidak kepeleset di jalan. Amin.

Aku mengusap wajah dengan kedua tangan. Kembali tertidur di pangkuan Umi, membiarkan lantunan Waqi’ah Umi malam itu meleleh dan menemani mimpiku.

***

“Kamu akan mulai ujian hari apa han?” Tanya Ayah pagi itu di ruang tengah yang sedang mencoba menikmati susu putih campur kopi, kebiasaan ayah tiap pagi.

“Insyaa Allah minggu depan, yah.” Ucapku melahap nasi goreng telur mata sapi buatan Umi, “Farhan akan ujian di Tangerang, guru Farhan bilang Farhan terlalu lambat mendaftar jadi kebagian di tempat lain, bukan di sekolah.”

Umi mengangkat penggorengan berisi tempe yang masih mengepulkan asap, dalam sekejap semuanya sudah tersaji di meja makan. Tempenya kelihatan garing dan nikmat. Aku mencomot satu dan ternyata masih panas.

“Teman kamu yang lain, bagaimana?”

“Cuma Farhan dan dua orang perempuan teman farhan dari kelas IPS yang satu tempat dengan Farhan, Faradilla dan Ati, sisanya Farhan tidak tau.”

Minggu ini merupakan minggu yang berat. Aku akan melaksanakan Ujian masuk perguruan Tinggi. Aku tidak lolos Ujian Jalur Raport, meski aku mendapatkan tiket untuk mendaftar karena mendapat peringkat 3 di kelas pada semester lalu. Tampaknya, memilih jurusan Kedokteran bukanlah hal yang mudah dengan nilaiku yang tidak terlalu bagus, atau mungkin memang saingannya yang terlalu banyak.

“Mau pilih jurusan apa lagi?” Tanya Ayah mengunyah tempe yang panas sambil mengeluarkan asap. Sepertinya ayah juga kepanasan.

Aku sempat berpikir, sebenarnya aku sudah memilih jurusan yang aku inginkan sejak lama, jurusan pertama yang aku pilih saat akan mengikuti ujian masuk rapor, tapi Umi menginginkan aku menjadi seorang dokter. Aku melirik ke arah Umi.

“Kali ini, Umi kasih kebebasan Farhan untuk memilih, jangan terlalu memaksakan, ya? Umi tetap bangga kok biarpun Farhan tidak menjadi dokter”

Aku mengangguk, “Farhan mengambil jurusan Oseanografi, mi, yah.” Umi dan Ayah sempat melongo sebentar.

“Jurusan apa itu, han?” Ayah meneguk susu kopinya.

“Hemm..” Aku mencoba berpikir, menjelaskan, “Kemarin ada kakak kelas Farhan yang kuliah di Malang dan mengambil jurusan itu, katanya jurusan itu sedang dicari saat ini, peminatnya juga jarang. Ditambah, Farhan kan suka sekali dengan binatang laut.” Jawabku jujur.

Ayah dan Umi mengangguk, “Umi setuju?” Tanya Ayah.

Umi tampak bingung, “Sebenarnya, Umi setuju, tapi Umi takut Farhan nanti kerjaannya di laut terus, apalagi kalau ingan kejadian Tsunami Aceh waktu itu, hiii Umi jadi ngeri.”

Aku tertawa, “Jangan khawatir mi, Oseanografi bukan berarti kerja di laut melulu kok, tapi kajiannya memang tentang laut.” Aku meyakinkan.

Tampaknya, menonton film spongebob membuatku mendapat ilham untuk memilih jurusan itu, untunglah Ayah dan Umi setuju. Tanpa restu mereka, ilmuku tak akan berguna di hadapan Allah.

Advertisements

2 thoughts on “Umi dan Farhan: Hujan dan Dingin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s