Umi dan Farhan: Benarkah??

Standard

Professor Daughtry menulis di papan tulis seperti biasanya. Menggoreskan huruf, angka dan rumus melalui tulisannya yang masih termasuk dalam kategori rapi, menurutku. Course siang hari, diisi dengan Mathematical Analysis for Scientific Approach, ini jelas subjek kesukaan Gery, aku melirik ke kanan, 2 bangku dari tempatku duduk, tempat Gery memperhatikan Professor Daughtry dengan sangat serius.

Lalu aku menoleh Hamman, yang sedang asyik tertidur sejak beberapa menit lalu. Dia seperti sisi koin yang berbeda dengan Gery. Aku melihat diriku sendiri, dengan catatan seadanya, sepertinya aku berada diantara Gery dan Hamman, yang antara suka dan tidak suka dengan subjek ini.

“Dalam sebuah model matematik, kita bisa membuat sebuah jalan untuk memecahkan masalah ilmiah,” Ujar Prof. Daughtry bersemangat. “Kalian tak akan pernah tahu apa yang bisa dilakukan oleh matematika.” Lanjutnya, menutup spidol dan berjalan santai mengitari kami semua. Hamman langsung tersentak.

“Aku mengenal salah seorang sahabatku waktu memperoleh gelar PhD dulu, namanya Daniel.” Prof Daughtry bercerita antusias namun dengan nada yang sangat halus, membuat suasana kelas saat itu sejenak jadi khidmat, dentum langkah kakinya pun, begitu berirama. Semua mahasiswa saat itu memperhatikan dengan serius, Prof. Daughtry berbalik, menghadap kami semua, “Dia memodelkan sebuah diversitas dan behavior hewan melalui pendekatan artistik.”

Aku tidak mengerti. Tapi Gery tetap saja antusias. “Kalian tahu apa yang dia lakukan?”

Kami semua menggeleng, “Dia mengambil Antler, Ikan Guppy, dan Burung Merak sebagai sampel. Dengan memperhatikan corak dari masing-masing objek, dia menganalisis hal-hal tersebut menjadi sebuah kesimpulan.”

Rian, pria asal belanda mengacungkan tangannya, “Aku masih tidak mengerti, Prof, apa yang teman anda lakukan dan coba dia simpulkan?”

Prof Daughtry tersenyum, “Pertanyaan bagus, Mr. Guttenkurst.” Prof Daughtry kemudian berjalan lagi, kali ini dentum kakinya sama dengan dentum jarum jam di kelas yang hening ini. “Dia melihat antler dengan tanduk bercabang dua, guppy dengan corak ekor berwarna hijau dan burung merak dengan ukiran ekor yang berbeda,”

Lalu?

“Lalu dia mendapatkan kesimpulan bahwa corak maupun jumlah dari properti artistik yang dimiliki masing-masing hewan menunjukan dominansi mereka di sebuah kelompok, sama halnya seperti kita, ada yang populer, kutu buku, atlit, dan sebagainya, hal itu juga berlaku pada hewan. Semakin cantik dan gagah properti mereka, semakin populer mereka di dalam kelompok.”

Semuanya takjub, “Itu semua ditemukan melalui rumus matematika.” Akhir Prof Daughtry. Waktu course sudah habis, Prof Daughtry membereskan peralatannya, disusul dengan kami semua.

“Aku memiliki sebuah tugas,” Ucap Professor Daughtry dengan buku tebal di dadanya. “Carilah sebuah objek mengenai biodiversitas dan behavior hewan dengan model matematika. Kalian boleh mencarinya dimana saja, tidak terbatas tempat dan objek yang kalian pilih. Ini akan menjadi nilai akhir kalian karena tidak akan ada ujian.”

Prof Daughtry meninggalkan kelas, disusul dengan kami semua.

***

“Kalian berpikir hal yang sama denganku?” Nick memulai pembicaraan. Dia mengangguk-angguk dengan tersenyum lebar, sepertinya aku bisa menebak apa yang ada di pikirannya.

“Apa?” Tanya Alba polos.

Nick menoleh ke arahku yang sedang mengunyah fish twister salad yang baru saja kubeli dari The Wendy’s “Apa?” Tanyaku dengan mulut penuh.

“Kita bisa mencari objek kita di negaranya Farhan. WHAT?! Semuanya melotot, kecuali Nick, dan aku bahkan hampir tersedak. Aku menepuk-nepuk dadaku dan Gery memberikan aku sebotol air putih. “Apa maksudmu?” Tanya Gery dan Hamman hampir bersamaan.

“Ya, kau tahu kan, bagaimana kita bisa melakukan penelitian yang baik? Ya dengan berkunjung ke lokasi penelitian yang baik juga.” Nick Menjelaskan, “Kalian tahu kan bagaimana Indonesia menjadi pusat penelitian biodiversitas terbesar? Raja Ampat? Borneo? Semuanya ada disana!”

Aku masih berusaha menelan makananku yang sempat tersangkut di tenggorokan, sementara Hamman dan Alba masih belum bisa mengerti apa yang ada di dalam kepala Nick. Tapi tebakanku tidak meleset, pasti itu tujuannya. Aku sendiri heran kenapa dia bisa sangat terobsesi dengan Indonesia, tidak jauh dari Nusa Kambangan dan Laguna Segara Anakan tempat Leptopilus javanicus, bangau jawa kesukaannya itu biasa beristirahat dari migrasi panjang mereka.

“Kau, Gery, kau sangat suka dengan Penyu bukan? Kau tahu Dermochelys berasal dari mana dan hanya melakukan proses peneluran dimana, bukan?” Nick menatap Gery, Gery mengangguk kaku.

“Ya tapi mereka biasa..” Nick mengacungkan jarinya, “Kita bisa menemukan banyak objek untuk tugas akhir Course kita, tak terkecuali, objek untuk Thesis kita masing-masing.”

Tiba-tiba Nick bagai seorang calon legistlatif yang mendapatkan suara dari Gery dan Alba, Hamman masih agak ragu, tapi sepertinya dia tertarik. Aku? Aku sebenarnya ingin pulang juga, tapi kurasa ide Nick tidak buruk. Aku memang bermaksud mengajaknya ke Indonesia, supaya dia tidak terlalu bawel lagi dan memintaku jadi bapak perinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s