Umi dan Farhan: Aku ingin Pulang

Standard

“Jadi, apa kalian sudah mempelajari beberapa rumus untuk menentukan suatu wilayah konservasi?” Ujar Geraldine menatap kami semua yang sedang sibuk dengan buku masing-masing. Hamman menoleh, dan seperti biasa, lelaki keturunan Pakistan itu menggeleng, “Materi itu membosankan, aku lebih suka mempelajari rumus untuk menentukan hukum penentuan wilayah konservasi dibanding menilai beberapa aspek penting wilayah itu.” Geraldine mendengus, bukan itu jawaban yang ia harapkan.

“Ya, kami semua tahu kau yang paling jago dalam hal itu, Gery” Sambung Alba si Gadis pirang keturunan Belanda-Amerika itu. Gery adalah panggilan Geraldine. Geraldine kembali mendengus, dia kemudian mengacuhkan semua jawaban dan kembali membaca buku “Assesment of Biodiversity: Introduction to Conservation Science”

Nick dan Aku hanya saling menatap, “Aku sudah mempelajarinya, tapi aku kesulitan memahami rumus itu, apa kau bisa mengajariku?” Tanyaku akhirnya, Gery menatapku dengan mata berbinar, “Benarkah?” Tanyanya tak percaya.

“Ya, tentu” Jawabku jujur, “Kulihat semalam Nick juga kesal sendiri karena tidak bisa menemukan benang merah dari materi yang dibacanya, benar kan, Nick?” Aku menyikut Nick pelan.

“Ee..Ya, benar” Nick garuk-garuk kepala kebingungan.

“Aku senang sekali kalian tidak mengerti!” Gery salah bicara, “Maksudku, dengan senang hati, aku akan mengajari kalian!” Dia nyengir lebar dan menutup bukunya. Alba dan Hamman hanya memperhatikan kami dengan menautkan alis. Tidak salah kan? Ucapku dalam hati, Lagipula aku memang tidak begitu mengerti tentang materi itu.

“Jadi?” Tanya Gery kemudian, “Kapan kita bisa mulai belajar bersama?” Aku senang Gery selalu ingin membantu temannya yang kesulitan dalam belajar. Aku dengar, Gery memang salah satu mahasiswi brilian saat Sarjana dulu, dia sangat antusias dalam belajar dan mengajari orang lain, dan, wanita satu ini sangat menyukai Penyu! Dia sangat menyukai penyu Hijau yang menurutnya sangat lucu!

Aku dan Nick berpandangan, “Bagaimana denganmu, Pedro?” Dengus Nick setengah jengkel, Pedro adalah panggilan Nick kepadaku ketika aku bersikap seolah menjadi seorang pahlawan ketika ingin membantu orang lain. Pedro merupakan salah satu tokoh Opera Sabun yang selalu muncul tengah malam di channel Kampus, acara ini biasa dimainkan oleh anak-anak kelas drama dari Fakultas Sosial.

Aku nyengir, “Kurasa, besok bisa. Kita hanya punya waktu kurang dari 1 minggu, kan? Di perpustakaan, bagaimana?”

“Kedengarannya bagus!” Ujar Gery antusias.

“Kalian mau ikut?” Tanyaku pada Alba dan Hamman, “Pasti akan menyenangkan.”

Alba dan Hamman berpandangan, “Well, aku ingin sekali ikut sih, tapi aku ada janji lain.” Jawab Hamman, sepertinya dia jujur.

“Aku juga, besok aku akan mengurus beberapa laporan kerja beberapa praktikanku.” Jawab Alba juga, Alba adalah salah satu asisten professor dalam beberapa subjek course, dia tidak kalah cerdas dari Gery.

“Baiklah, semoga berhasil!”

***

Melody ponsel tanda panggilan masuk berbunyi. Ponselku bergetar di dalam kantong. Panggilan dari Umi.

“Halo, assalamualaikum?” Ucapku, terdengar jawaban salam dari seberang telepon, “Ada apa, mi?” Jawabku, aku sedang berjalan menuju the Wendy’s untuk makan siang. Jalanan sedang lengang, tak banyak orang yang terlihat di sekitar lingkungan kampus.

“Alhamdulillah, sehat, Umi dan Ayah bagaimana?” Aku mengangguk, melewati lingkaran air mancur yang dihinggapi beberapa burung yang menunggu untuk mandi. Melewati jalanan berhias konblok menyerupai bata dan tanaman hias berbentuk lingkaran yang baru saja dipangkas rapi.

“Alhamdulillah, ya, sebentar lagi Farhan akan ujian, insyaa Allah minggu depan, Farhan minta waqi’ah dan restu Umi dan Ayah, semoga ujian Farhan lancar.”

“Iya, iya, terima kasih umi.”

Aku berjalan lagi, mendengarkan Umi bercerita panjang lebar di seberang telepon. Aku tersenyum senang, “Benarkah, Aisyah akan segera menikah mi? Wah, Barakallah.” Aisyah adalah Sepupuku dari keluarga Umi, usianya sama denganku, dia baru saja dilamar oleh seorang pria keturunan Arab-Indonesia. Aisyah dulu sempat satu SMP denganku namun belum pernah satu kelas, dia adalah sepupuku yang anggun, sekarang dia mengenakan Jilbab syar’i dan pakaiannya serba tertutup, padahal sewaktu SMP dulu masih belum berjilbab dan senang sekali mengenakan jeans.

“Insyaa Allah, Farhan selalu doakan, kapan pernikahannya mi?”

“Oh, ya, sebentar lagi, ya? Sepertinya Farhan bisa datang, mi, Insyaa Allah. Nanti Farhan akan coba diskusi dengan Professor pembimbing Farhan.”

“Iya, iya.” Umi mengatakan bahwa kalau pulang nanti jangan lupa belikan hadiah untuk Aisyah dan suaminya dari sini, tentu aku akan membelikan hadiah paling spesial untuk sepupuku satu itu.

“Enggak kok mi, ya, salah satu teman Farhan ada yang ingin main ke Indonesia katanya.”

“Iya, dia ingin melihat bangau katanya,” aku tertawa, mengangguk-angguk. “Insyaa Allah, salam sama ayah ya mi, ayah sudah pulang kah?”

Aku mengangguk lagi, “Mulai sekarang tidak perlu kerja yang berat-berat, mi, uang saku Farhan cukup untuk membeli keperluan di rumah, Insyaa Allah.”

“Iya, iya..Waalaikum salam..” Telepon ditutup. The Wendy’s sudah kelihatan di depan. Perutku mulai keroncongan, dan seperti biasa, aku merindukan rumah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s