Umi dan Farhan: Waktu Dhuha yang Berbeda

Standard

Matahari naik sepenggalahan. Menyisirkan panas satu persatu ke kota Michigan. Membuat riang tanaman yang sejak tadi menantikan siang. Angin berhembus lembut, awan berjalan beriringan di atas langit biru kota ini. Orang-orang lalu lalang berjalan santai melewati pusat kota, ada yang berhenti sejenak untuk membeli kopi di kafe seberang jalan, atau berbelanja pupuk di florist dekat pusat perbelanjaan.

Aku berjalan menuju masjid Islamic Center di Masjid Shia untuk melaksanakan Dhuha sejenak. Course akan dimulai pukul 12 nanti, dan, menghabiskan waktu pagi sambil bermesra mengucap Kalam Illahi selalu menjadi favoritku, bahkan sejak SMA dulu. Aku jadi ingat masjid sekolah saat aku kelas 3 dahulu baru selesai dibangun, hanya aku dan beberapa akhwat yang mengisi untuk melaksanakan Dhuha. Meski masih beralas semen kering, aku masih menjadikan masjid sekolah saat itu menjadi lokasi favorit saat istirahat. Saat kuliah dulu aku juga sering berkunjung ke masjid-masjid di sekitar Purwokerto, dan Masjid Fatimatuzzahra di dekat kampus selalu menjadi favoritku, aku merasakan suasana Dhuha yang berbeda setiap minggu sebelum memulai kuliah di jam siang.

Matahari semakin naik, namun cahayanya tetap hangat, terik tapi tidak membakar, mungkin hal inilah yang menjadi alasan mengapa aku selalu menyukai waktu dhuha.

Di Masjid beralas karpet bulu cokelat ini, aku menyaksikan begitu banyak muslim dengan perawakan di seluruh dunia berkumpul. Ada Hasheem Khan dari India dengan kulit percampuran Arab dan Asia yang seringkali kudapati tengah membaca qur’an di sudut masjid. Wajah putih bersih dan hidung mancung, serta suara merdunya selalu menjadi penghangat suasana masjid disini. Kadang aku menyaksikan dia mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak yang dititipkan orang tuanya di masjid ini untuk belajar Agama. Hasheem berkuliah di Universitas yang sama denganku, dia mengambil jurusan Sosial Humaniora di Fakultas Sosial dan usia kami tidak jauh berbeda, meski Hasheem lebih muda 1 tahun dariku, tapi pengalamannya tentang ilmu Agama membuatnya selalu memiliki kharisma yang lebih.

Surat Al-Fajr dibacakan dari seseorang di sudut sana, aku tak mengenalnya tapi dia sepertinya orang Irlandia, aku bisa mengenali dari warna kulit dan mata hijau jernih sama seperti yang dimiliki oleh Kim, sahabatku dari Fakultas Seni, atau, aku yang sok tahu, yah? Tapi aksen inggrisnya sekilas sama dengan Kim, meski aku belum pernah mendengar Kim membaca ayat al-qur’an, suaranya cukup merdu, samar-samar ditutup oleh suara tilawah lain dari berbagai sudut di masjid ini.

Usai mengambil wudhu, aku kembali mengambil napas, menghirup udara segar surgawi yang berada di dalam masjid mengisi paru-paru dan hatiku. Begitu syahdu. Waktu Dhuha yang selalu kucintai, meski berbeda, namun kasih sayang Allah terasa masih sama. Aku mengambil 3 shaf di depan mimbar, dekat dengan jam besar yang bertengger di masjid ini. Membuat dentumannya semakin menambah kekhusukan shalat.

Lingkaran kaligrafi ukir bercat emas mengelilingi interior bagian dalam gedung yang sebagian besar bercat cokelat pucat ini. Lampu-lampu kristal menggantung di setiap sisi. Bercerita banyak kisah meski tak pernah disampaikan melalui mulut siapapun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s