Umi dan Farhan: Mozaik mimpi

Standard

Senja di ufuk barat, hampir mencapai titik akhir hari. Angin berhembus meniupkan dingin, dingin yang bersatu dengan malam. Siang sudah hampir menipis, cemara terlihat seperti siluet diantara jingga, kemudian menghilang bersama dengan gelap. Rerumputan tampak takut menghadapi malam, terus menerus bergemerisik tertiup angin. Danau mulai menampakan bayangan gelap, memantulkan matahari yang hampir tenggelam dengan titik-titik kristal.

Aku dan Umi biasa menghabiskan waktu bersama disini, tentu kalau Ayah sudah pulang pasti kami habiskan waktu bertiga. Di tempat yang hanya aku dan Umi yang tahu. Tempat favorit Umi dan Aku kala kami merindukan mentari dan langit yang menari di siang hari.

“Hari ini tidak ada bangau lagi ya, mi?” Ucapku berada di pelukan Umi, memandangi langit senja yang sebentar lagi akan bergulir.

Umi menggeleng, “Mungkin bangaunya sekarang sedang berada di tengah lautan sayang, sedang berjuang melawan badai untuk mengunjungi keluarganya.”

“Sampai sejauh itu kah, mi?” Aku menatap Umi, menengadah keatas dan melihat kulit umi yang merona seperti biasa yang masih diterangi sedikit cahaya senja.

“Iya, mereka berkelana keliling dunia untuk bermigrasi dan mencari pasangan, sayang.” Umi tersenyum lagi, namun pandangannya tak lepas dari pemandangan yang tersedia dihadapan kami berdua. Umi menghela napas takjub.

Aku kembali melihat kedepan, “Ayah sudah pulang belum ya, mi?”

Umi menggeleng, mengusap kepalaku lembut, “Ayah hari ini pulang telat lagi, sepertinya masih banyak pekerjaan.”

Angin berhembus melewati kami berdua, matahari semakin menjauh sedikit-demi sedikit. Burung walet bertebrangan di langit, membentuk formasi seperti yang digambarkan dalam lukisan. Ikan-ikan malam mulai bermunculan di danau, berloncatan mengejar kunang-kunang yang baru saja keluar dari rumah mereka.

“Apa ayah tidak capek mi kerja terus menerus?” Aku berbicara setengah berbisik.

Umi menggeleng, “Tidak, sayang, karena Ayah menjalaninya dengan ikhlas, dengan penuh semangat untuk Farhan dan Umi.” Jelas Umi, “Allah yang menghilangkan segala kelelahan dalam diri Ayah, sayang, karena itu, Farhan juga harus belajar mencapai cita-cita dengan ikhlas, ya? Supaya tidak lelah, lakukan hal ini untuk Ayah dan Umi, dan yakin bahwa Allah selalu membantu Farhan dalam mencapai cita-cita Farhan, selama Farhan tidak lupa untuk ikhlas.”

Aku mengangguk lebih dalam. Bulan muncul. Putih transparan, bintang mulai keluar satu-dua-tiga. Sebagian langit sudah menghitam biru, suara kokok burung gagak terdengar samar, formasi burung walet sudah menghilang. Hanya gelap, bersama aku dan Umi. Titik kunang-kunang susah payah menerangi kami berdua. Dalam malam pun, tempat ini masih begitu memesona.

“Farhan janji, umi!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s