Umi dan Farhan: Nick, dan Bangau Jawa

Standard

“Kenapa kau lama sekali sih, far?” Nick gusar, dia menghampiriku yang baru saja melepas kaus kaki hitam dan meletakkan jacket kulit di gantungan. “Kan aku bilang, ini semua lebih berharga dari hidupku, tahu?” Dia mondar mandir, memainkan tangannya, berbicara sambil menerawang, sesekali tersenyum, kemudian berputar, dan begitu seterusnya dihadapanku. Aku tak begitu menggubris isi pembicaraannya, karena aku sudah tahu apa isinya, kadang-kadang anak ini memang ngaco sekali, usianya yang hampir 24 itu kadang terlihat seperti anak remaja SMA yang dijanjikan blackberry oleh orang tuanya dan merengek-rengek minta segera dikabulkan.

Aku menghela napas, “Maaf,” aku berjalan, melepas jam tangan dan meletakkanya di kasur, “Tadi aku bertemu dengan Melly,” jelasku “Melly Bronze, kau tahu kan?” Tanyaku menatap Nick yang masih mondar-mandir, seketika dia berhenti.

“Melly Bronze, si pirang berkulit cokelat itu?” Tanya Nick, mendekat menghampiriku, “Teman satu kelas saat kita mengambil kursus mata kuliah Genetika Lanjutan?” Tiba-tiba saja Nick jadi heran. Kenapa ya?

“Ya, betul, dan kami sempat mengobrol sebentar, yah, tidak sebentar juga sih.”

“4 jam” Nick Mengoreksi.

“Thanks.” Aku nyengir, “Dan, kau tahu apa yang kami bicarakan?” Aku duduk, mengadap Nick yang berdiri di hadapanku.

“Apa? Cinta? Dia naksir sama kamu ya?” Sindir Nick

Ini anak gak nyambung banget! Pikirku, ingin rasanya aku menjitak Nick saat itu juga, “Kurasa dia tertarik dengan Bangau juga, sama sepertimu.” Lanjutku, menghela napas. “Aku heran, kenapa sih banyak sekali orang-orang di dunia ini yang memaksaku untuk menceritakan tentang status biodiversitas di Indonesia?” Aku mendesah kesal.

Nick mondar-mandir lagi, “tunggu.. tunggu…” Nick berhenti, memainkan telunjuknya, “Melly, menanyakan Bangau jawa juga?” Nick ikut duduk di kasurnya, tepat berada dihadapanku. “Bukankah itu hal yang luar biasa?”

“Apanya?” Tanyaku heran. “Biasa saja, ah. Malah kupikir, pertanyaan Grace tempo hari mengenai apakah ada spesies lain selain Coelacanth di Sulawesi lebih menakjubkan.”

Nick senyum-senyum sendiri, “Yah, maksudku, selama ini kupikir hanya aku yang tertarik dengan bangau itu.” Nick mengangguk-angguk pasti.

“Kau, dan dokter Allan, dan Melly” itu yang kutahu. Aku mengoreksi. Nick menjentikkan jari. “Lalu, apa yang ingin kau bicarakan, hal yang kau bilang lebih penting dari hidupmu?” Aku menaikkan alis, mencoba meledeknya. Nick malah nyengir lebar, sepertinya usahaku tidak berhasil untuk membuatnya malu.

“Kau tahu,” Nick menghela napas, “aku selalu ingin pergi ke Indonesia, ke Pulau Nusa Kambangan dan Laguna Segara Anakan yang terkenal itu,” Nick kembali berdiri, menggenggam tangan penuh semangat, kalau diperhatikan sepertinya semangatnya sedang membara, selalu membara saat membicarakan tentang bangau. “Aku ingin tahu bagaimana kondisi mereka sesungguhnya disana, maksudku, sulit sekali membayangkan kenyataan yang dinyatakan pada artikel internasional yang selama ini kubaca. Kupikir, aku akan bisa menemukan ide untuk Thesis ku ketika aku melihat Bangau Jawa.”

Aku sudah mengerti arah pembicaraannya, “Yah, bisa saja.” Jawabku santai. “Asal kau sudah menyelesaikan semua course mu musim ini.” Aku berdiri dan menarik handuk dari gantungan baju, membuka pintu kamar mandi dan meninggalkan Nick yang bengong sendiri memandangi lantai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s