Di Ruang Berdebu

Standard

Jum’at, 23 Januari 2015

Pukul 15:24 Waktu Bali

Ruang kosong yang hening. Aku masih bisa mencium bau debu bertengger di meja dan lemari kamar ini. Sepertinya, sudah cukup lama ruangan ini sudah tidak diisi, dan sekarang, aku yang akan menghuni ruangan ini selama beberapa minggu ke depan. Sejak pagi tadi aku merasa kurang enak badan, saat dibangunkan umi bersamaan dengan adzan shubuh, disambut dengan hujan rintik yang menderas, sontak aku menggigil dan kembali bersembunyi di balik selimut. Saat umi mengatakan, “Ayo cepet bangun, memangnya kamu gak jadi pergi ke Bali?”

Aku mendapat jadwal pagi, pukul 7:20, sebenarnya aku sengaja memilih jadwal yang sama dengan kakak, tanggal 23 hari ini, meskipun pesawat dan jam keberangkatan kami berbeda.

Dengan kepala pening dan menggigil aku mandi dengan air hangat, mencoba mencuri waktu untuk tidur kembali tapi sepertinya mustahil. Menghabiskan waktu pagi di perjalanan menuju bandara soekarno-hatta, melihat banyak orang yang memilih jadwal yang sama denganku. Dan jam-jam perjalanan terasa sangat canggung karena aku satu seat dengan sepasang suami istri muda yang memiliki bayi berusia 5 bulan.

Bayinya lucu sekali, kalau tidak salah namanya Kane, laki-laki. Gemuk dan perawakan Chinese. Sepanjang perjalanan dia menangis, mungkin karena pusing menaiki pesawat. Kugenggam tasbih dan membaca istigfar sebanyak-banyaknya, lantaran kepalaku semakin penat saja pagi ini.

Lama sekali akhirnya aku memutuskan untuk menulis lagi. Mungkin karena cerita semakin banyak menumpuk dan menunggu untuk dicurahkan.

Dan, ketika aku menyadari semuanya sudah berbeda. Kehidupanku sekarang. Sangat jauh berbeda, aku mulai begitu bahagia berada jauh dari rumah, mungkin karena sudah terlalu lama merantau dan aku memang kurang nyaman dirumah karena Ayah dan Umi selalu memperlakukan aku seperti anak kecil. Minggu lalu aku bertengkar dengan Ayah karena beberapa hal, pertengkaran kami memang selalu menjadi yang membingungkan, ayah seringkali marah tanpa alasan, dan, egoku yang sudah 20 tahun ini lantas saja menanggapi dengan keras juga.

Meski akhirnya, Ayah selalu manjadi pihak yang mengalah.

Lalu, ada yang berbeda lagi. Status kakak sekarang tak lagi lajang, dia sudah resmi menjadi istri dari seorang laki-laki yang dulu diperjuangkannya, menolak beberapa lamaran dan akhirnya merekapun bersatu juga. Aku melihat keduanya bahagia sekarang, moga saja jodoh seorang ustadz bukanlah hal yang salah. Aku sangat menunggu kehadiran seorang keponakan sholeh dan sholehah dari mereka berdua sebelum aku akhirnya memiliki anak nanti. Aku berharap salah satu di keluarga kecil ini yang sebentar lagi akan menjadi keluarga besar, akan ada hafidz dan hafidzah.

Bali.

Aku pernah kesini sebelumnya, sudah lama sekali, saat aku kelas 3 SD. Kota yang begitu terkenal bahkan sampai ke mancanegara, dan, kupikir aku menyukai kota ini juga, meski banyak sekali hal ganjil disini, sulit sekali menemukan masjid disini, dan restoran kebanyakan menyajikan beberapa sajian yang tidak diperbolehkan dalam islam.

Bali.

Kupikir, orang-orang tak salah menyebutnya sebagai kota yang indah, karena memang begitulah kenyataannya. Aku mungkin akan betah disini, namun ketika aku ingat bagaimana orangtuaku, Ayah dan Umi membanting tulang hanya demi membiayai PKL ku di Bali ini. Ayah baru pulang pukul 1 dini hari, hanya demi pekerjaannya di usia yang hampir senja. Begitu juga Umi. Aku selalu merasa tidak enak dengan kedua orangtuaku. Lalu mungkin aku akan memulai sebuah pekerjaan di semester yang baru nanti.

Aku begitu antusias menyambut apa yang akan kulalui di semester ini dan di tahun ini, semuanya sepertinya akan sangat menyenangkan, kurasa.

Bali.

Aku akan berada disini selama 3 minggu ke depan, menuntut ilmu lebih jauh. Meski semuanya tak akan pernah mudah. Tapi aku percaya pengorbanan orang tuaku tak akan pernah sia-sia. Aku berharap aku bisa menjaga diriku sendiri dari jilatan api neraka yang selalu mengintaiku di kala sendiri. Karena hanya Allah-lah, yang mampu melindungi dimanapun diri ini berada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s