Umi dan Farhan: Waktu yang Hilang

Standard

“Waalaikum salam.” Angin berhembus ringan, meniupkan sedikit sejuk ditengah terik yang menjalar. Aku menutup buku “Guidance to Genetics Conservation” yang baru saja kupinjam dari Ahmed, kawanku dari Iran pagi tadi. Aku tersenyum, mendengar suara di seberang sana yang begitu kurindukan.

“Alhamdulillah, baik-baik, Umi dan Ayah bagaimana disana?” Aku menerawang ke depan, melihat jalanan lengang yang hanya terlihat satu-dua-orang saja. “Iya, sepertinya belum bisa pulang tahun ini, masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan disini.” Aku menghela napas berat, betapa inginnya aku pulang ke rumah sekarang, bertemu Ayah dan Umi dirumah. “Iya, insyaa Allah.”

“Iya, kebetulan Ramadan datang bulan depan, Professor pembimbing Farhan belum memberikan Farhan izin untuk pulang, mi.”

Hening lagi, cuma suara Umi yang terdengar di ponsel milikku. Aku mengerti, tidak murah biaya untuk melakukan panggilan kesini, karena itu aku dan umi jarang sekali berkomunikasi, meski aku yang biasa memulai panggilan duluan, tapi tidak biasanya umi memilih untuk menelponku lebih dulu. “Ayah bagaimana, mi? Masih sering sakit punggungnya?”

Aku mengangguk, “Sudah dibawa untuk cek ke dokter lagi?” Aku mengangguk lagi. “Insyaa Allah, lekas sembuh, Umi dan Ayah gak perlu khawatir, Farhan baik-baik saja disini.”

“Iya.. Iya.. Waalaikum salam.”

Telepon ditutup, nada putus sambungan masih terdengar, dan aku terhenyak sebentar.

Rindu, ya, rindu yang aku rasakan. Aku tahu Umi menyimpan rasa yang sama juga, tapi mungkin rasa rindu Umi lebih besar dari apapun. Tidak ada hal yang begitu special untuk dibicarakan, Umi hanya menanyakan kabar dan apakah aku bisa pulang Ramadan tahun ini. Bulan depan kami memasuki Ramadan, dan ini menjadi tahun ke-6 aku tidak bisa pulang untuk Ramadan bersama Umi dan Ayah.

Saat menjalani S1 di Purwokerto dulu aku juga jarang pulang saat Ramadan, baru pulang empat atau tiga hari menjelang lebaran saat berdesak-desakkan di peron berebut gerbong kereta. Tapi aku tetap bahagia melihat kehangatan wajah kedua orang tuaku, saat berat membawa koper berisi penuh oleh-oleh getuk goreng, ayah selalu menyambutku meski itu pagi buta. Saat itu pukul 1 pagi, ayah menantikan aku di pintu rumah dengan wajah lelahnya, menunggu sambil membaca beberapa lembar mushaf seperti biasa, kegiatan ayah yang paling kusuka saat berada dirumah. Umi juga tak kalah gigih membaca mushaf dengan suara merdu yang selalu membuatku betah tidur di pangkuan umi saat membaca Waqi’ah di setiap malam.

Tiba-tiba saja semua itu muncul kembali, seperti sebuah film yang diputar tepat dihadapan wajahku. Jelas, bahkan aku masih bisa mendengar suara tawa ayah saat mencicipi getuk goreng kesukaannya.

Ponselku bergetar, membangunkanku dari lamunan panjang. Dari Nick.

Farhan, can you please come to dorm now? I need to talk about something, it is important, more than my life 😀 Thanks

SMS dari Nick, dasar Nick, dia selalu berlebihan. Sepertinya aku mengerti apa yang akan dikatakannya, sudah seminggu ini Nick terus-terusan memintaku untuk menceritakan tentang Nusa Kambangan, tempat dimana burung bangau jawa kesukaannya itu selalu mendarat setiap tahun. Nick sepertinya sama seperti Mr. Allan, begitu mencintai burung, terakhir dia menanyakanku dimana dia bisa menemukan burung cendrawasih, aku menjawab di kebun binatang dia malah mengira aku bercanda.

Advertisements

2 thoughts on “Umi dan Farhan: Waktu yang Hilang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s