Dear, Ayah

Standard

Pagi hari, tak pernah lengkap rasanya ketika tak terdengar kipas laptop sehari saja. Padahal embun sudah menjadi kabut, dingin sudah menyergap, meski masih ada beberapa bintang yang kesiangan pagi ini.

Dear Ayah,

Tak bisa aku mengeluh sekarang, betapa melelahkannya pagi, ketika mengingat tugas-tugas kuliah sepertinya semakin bertambah setiap minggunya. Hilang satu, tumbuh seribu, selesai satu muncul tugas yang lain. Jika aku bisa mengatakan “Aku lelah, aku ingin pulang saja dan berada bersama Ayah dan Umi dirumah” itu mustahil. Aku selalu ingat hari ketika dimana Ayah menelepon menanya kabar, meski hanya satu-dua buah kata yang bisa ayah sampaikan, entah hanya “Apa kabar disana? Sehat kan?” Kemudian ayah menutup telpon tak sampai semenit. Aku tak bisa mengatakan keadaanku, meski hanya kubalas dengan kalimat aku baik-baik saja meski saat itu aku sedang flu berat.

Atau, ayah yang selalu berkata begitu, meski aku tahu ayah selalu pulang malam berbalut jaket dan menerobos angin dengan gigil.

Atau, ayah yang marah-marah ketika aku begitu boros menghabiskan uang jajan, beli ini-itu padahal aku tak pernah mengerti betapa sulitnya mencari sepeser rupiah ditengah dunia yang berkembang ini, ditambah usia yang tak lagi muda. Kalau bisa kuingat semuanya, sepertinya lelah ini akan segera sirna.

Ketika aku bandingkan lelah yang kurasa sekarang, malas, keluh, bahkan keinginan untuk berhenti, dibandingkan dengan lelahnya Ayah berangkat pagi buta membawa motor dan kembali ketika hampir tengah malam. Ketika dibandingkan aku yang masih bisa mengeluh dan lelah dengan bolos kuliah sekali saja, tapi ayah masih tetap berjuang mencari sepeser rupiah untuk membuatku tetap bisa berada di sini.

Mungkin cuma semangat Ayah yang bisa membuatku terus tegar, meski setiap hari selalu menjadi yang kutakuti, deadline yang selalu mengejar atau ujian yang selalu menghantui, semuanya karena aku yakin Ayah menaruh harapan besar padaku. Anak laki-laki paling besar yang kelak akan menjadi Ayah seperti Ayah sekarang. Yang Ayah percaya, bahwa peluh dan letih di punggung akan membuat diriku kuat nanti. Yang Ayah percaya, bahwa lelahnya sekarang, adalah untuk diriku esok.

Dear Ayah,

Mungkin Cuma maaf yang bisa terdengar sekarang, meski semuanya masih tersembunyi dalam gugu, dan aku tak pernah bisa mengutarakan kecuali dengan peluk yang selalu ingin kusampaikan ketika aku sampai dirumah nanti.

Dear Ayah,

Maaf aku belum bisa pulang sekarang, meski Ayah sudah berkali-kali ayah menelpon “Kapan libur? Kapan bisa pulang?”

Dibalik kata yang singkat itu aku sadari ada begitu banyak rindu yang Ayah simpan untukku. Rindu ketika pagi hari membangunkanku dengan cipratan air di wajah untuk shalat shubuh, atau, memandikan aku ketika sore saat aku masih TK dulu. Mengantar sekolah dengan motor tua dan menunggu di depan kelas hingga aku keluar menyambutmu. Mungkin tak ada hari-hari itu lagi, yang selalu kurindukan, pun, mungkin Ayah merindukannya juga.

Dear Ayah,

Anakmu kini sedang berjuang, membakar semua besi manja untuk ditempa menjadi kemandirian. Anakmu kini sedang berjuang, untuk tetap berjalan meski kaki sudah letih. Anakmu kini sedang berjuang, menukar peluh dengan manisnya keberhasilan. Semuanya karena aku yakin Aku akan menjadi yang terbaik untuk Ayah, untuk bisa menjadi yang bisa menggantikan Ayah dan kuat untuk menjadi anak laki-laki Ayah. Yang tak pernah mengeluh, yang tak pernah menyia-nyiakan waktu hanya demi senang-senang. Itu sebabnya ayah selalu melarangku untuk pergi nonton film di mall bukan? Ya, kini aku sadar itu tak memberikanku apa-apa.

Dear Ayah,

Ramadhan akan menjelang, aku merindukan bagaimana manisnya puasa bersama dengan sahur bersama sosis goreng yang Ayah masak. Menonton siaran televisi ketika waktu berbuka dan pergi tarawih bersama meski aku selalu tertidur di masjid akibat kekenyangan, tapi Ayah selalu menggendongku sampai rumah. Aku merindukan saat itu yang tak pernah kusadari begitu berharga sekarang.

Dear Ayah,

Aku merindukan ayah, meski tak pernah sama besarnya dengan rindu yang sedang ayah simpan sekarang.

Aku mencintai ayah, meski cinta itu tak pernah cukup untuk membalas cintamu yang selalu mengalir di setiap pagi.

sumber: rappidroid.blogspot.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s