Aku, Malu

Standard

Hujan turun lagi malam ini,

Membasahi bumi yang baru saja satu jam terkena panas sang raja siang. Lalu, gelap sudah menyelimutiku sejak beberapa jam lalu, kumandang adzan isya sudah terdengar, membuatku yang terduduk bersamaan dengan rinai menjadi gundah.

Entah apa yang terjadi pada diriku, aku selalu merindukan suara adzan, merindukan mendirikan shaf di masjid agung yang selalu kusuka. Mungkin pindah kost membuat semuanya menjadi lain. Aku hampir jarang melaksanakan shalat di masjid agung itu lagi, Masjid Fatimatuzzahra yang selalu membuat diri menjadi lebih dekat dengan Rabb tercinta. Bukan hanya karena barisan shaf nya yang rapi, bacaan panjang dikala shubuh, Maghrib dan Isya yang membuatku terus jatuh dalam kedamaian.

Agaknya, di masjid sekarang aku hampir tak pernah menemukan kedamaian itu. Mungkin karena keimananku goyah, mulai keropos digerogoti maksiat.

Tapi, entahlah, aku tak yakin. Ketika adzan terdengar, langkah kaki seakan memberat ratusan kilogram, membuatku malas untuk sekedar beranjak, berterima kasih kepada sang pemilik hidup.

“Hayya ‘ala sholah……” Gaung adzan terdengar, menembus gendang telinga, tapi apa daya hati masih saja keras untuk beranjak.

Lalu aku membuka facebook ku, yang kenyataannya 1000 kali lebih banyak kubuka dibanding al-qur’an milikku sendiri. Kulihat daftar postingan terbaru dan aku melihat foto-foto yang membuat hatiku gemetar.

Aku melihat foto barisan anak-anak Suriah yang memeluk tubuh mereka masing-masing, berbaju tipis, dengan kaos kaki dan celana yang compang camping. Berusaha menghangatkan diri dengan duduk dipinggir api unggun melawan musim yang dingin.

Kemudian, aku melihat berita gigihnya wanita-wanita Palestina dan barisan pemuda Al-Aqsha yang berusaha melawan kebiadaban rezim Yahudi Laknatullah ‘alaih dalam melawan penindasan dan pelecehan Masjid Ibrahim, betapa semangat Al-Qur’an mereka membara, lebih ganas dari senapan milik zionis terkutuk.

Aku malu.

Aku malu.

Lalu, kenapa aku masih saja malas mendirikan shaf di masjid, di Negara yang aman ini?

Kenapa?

Kenapa aku masih saja mementingkan laptop dan ponselku tatkala adzan menyambut, atau malah menarik selimut disaat adzan shubuh menggelayut menyambut?

Apakah, karena imanku yang lemah?

Lalu, aku kembali bingung, untuk apa sebenarnya aku ada di dunia ini, kalau melaksanakan amalan untuk membahagiakan Rabb-ku saja masih sangat malas?

Aku malu.

Aku malu pada saudara Palestinaku, malu menikmati makanan enak disaat adik-adik mungilku di Suriah menggigil dan kelaparan.

Aku malu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s