Umi dan Farhan: Lembar Pertama

Standard

“Tiup lagi!” Seru Umi sambil memelukku.

Aku meniup sedotan berbentuk lingkaran yang berisi sabun, membuat gelembung membesar dan terbang tertiup air. Aku mencelupkan tangan kananku ke gelas berisi sabun, mencoba membuat gelembung yang lebiiih besar lagi!

Huuuff……Huuuufff….Huuuuffff… aku meniup sekuat-kuatnya, mengisi pipiku dengan udara, membuat gelembung semakin membesar dan pusss! Pecah, membuat cipratan sabun membanjiri wajahku dan umi. Umi tertawa dan membersihkan pipiku dengan jemarinya yang lembut yang selalu kusuka.

Ilalang bergerak-gerak lemah tertiup angin. Helai rerumputan kering berterbangan di padang luas ini. Hanya aku dan Umi. Dihadapan kami berdua, ada sebuah danau besar yang airnya sangat jernih, lengkap dengan bingkai pohon cemara yang tinggi menggapai langit, mengelilingi sisinya. Kalau dilihat dari atas, aku bisa melihat ikan-ikan berenang kesana kemari. Sangat jernih.

Umi memeluk diriku, menularkan hangat dari tubuhnya melawan angin yang bertiup dingin. Kemudian dia menggerak-gerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, berayun, mengikuti melodi angin sore. Aku terpejam, merasakan desau angin yang begitu menentramkan membelai pipi.

“Nak, kamu tahu siapa yang menciptakan semua ini?” Tanya Umi lembut setengah berbisik. Suara gemersik rerumputan masih terdengar. Angin meniupkan permukaan air, bergelombang dan menimbulkan riak. Aku mengangguk dalam pelukkan umi.

“Allah kan, mi?” Aku menatap keatas dan melihat langit sangat biru, awan berkumpul dan berjalan tenang beriringan. Satu-dua aku melihat burung berwarna merah muda turun menuju danau. “Umi!” Seruku sambil berdiri, melepaskan pelukan umi yang hangat. “Lihat mi! Itu burung apa mi?!” Mataku melotot dan menunjuk-nunjuk sepasang burung yang berdiri dengan sebelah kakinya.

“Itu burung bangau, sayang.” Ucap Umi lembut sambil tersenyum tipis.

“Burung bangau? Burung apa itu mi?” Tanyaku antusias, aku melihat burung itu sekali lagi. Paruh mereka berada di dalam air. “Apa yang mereka lakukan, mi?”

Umi berdiri mendekatiku, menggenggam kedua tanganku dan mengangkatnya tinggi-tinggi. “Burung bangau itu, burung yang bepergian sangaaaat jauh! Mereka berpindah dari satu Negara ke Negara lain, sayang.”

Aku berdecak, membentuk mulut seperti huruf O dan mengangguk-angguk. “Lihat mi! Mereka dapat ikan!”

Umi mengangguk, tersenyum. Aku takjub melihat pemandangan di hadapanku, sesaat kemudian, burung itu terbang lagi bersama kawanannya, mengepak sayap semakin tinggi, menghembuskan angin kencang dan meniupkan beberapa helai rerumputan kering ke udara, tinggi menuju langit biru yang terselimuti awan, menjadi siluet siang hari dan kemudian menghilang menjadi titik.

***

“Spesies bangau jawa terus menurun akibat adanya degradasi lingkungan, diakibatkan oleh ekspansi pembangunan oleh manusia yang menyentuh kawasan hutan mangrove yang merupakan lokasi pencarian makan bagi spesies bangau ini, jika dibiarkan, dalam waktu dekat, spesies bangau ini akan punah di masa yang akan datang.” Professor Allan Hemsworth berjalan mondar-mandir, menggenggam bolpoin emasnya seperti biasa, antusias menjelaskan tentang pentingnya melakukan upaya konservasi bagi beberapa spesies burung yang menjadi objek penelitiannya.

“Apakah kamu pernah melihat spesies burung ini sebelumnya?” Tanya Nick berbisik yang duduk di sampingku. Aku menoleh, dan menggeleng. “Kupikir, spesies ini ada di daerah tempat tinggalmu, bahkan terakhir kubaca mereka melakukan istirahat di salah satu laguna terkenal di pulau jawa, apa kau tau?” Ujarnya, mata birunya yang sangat jernih itu melotot penasaran. Lagi-lagi aku menggeleng. Nick tampak kecewa dan mengehela napas, kemudian dia kembali mempehatikan Professor Allan di depan bersama dengan slide biru lautnya.

***

Cafeteria ramai seperti biasanya, inilah satu-satunya tempat paling nyaman saat berkumpul usai melaksanakan kuliah di Universitas. Semua mahasiswa dari berbagai fakultas biasanya menghabiskan waktu makan siang mereka disini, sambil berdiskusi banyak hal. Ada sekitar 400 tempat duduk lengkap dengan meja masing-masing. Biasanya mereka membentuk kelompok sendiri, aku mengenal Jeff Marshall si anak Ekonomi biasa berkumpul dengan kawannya di meja tengah, tempat paling diperebutkan di cafeteria ini, karena lokasi tengah adalah lokasi yang paling spesial. Ada pohon Oak super besar yang memberikan suasana sejuk.

Kalian pasti bertanya-tanya apa fungsinya pohon Oak di dalam ruangan ini? Ya, cafeteria Universitas ini memang menarik, ruangan indoor ini didesain dengan model modern dengan sebagian besar abu-abu millennium. Kursinya dari meillenium, meja, wastafel, bahkan catering makanan semua berasal dari millennium. Konon, cafeteria ini dulunya adalah hutan lebat yang sangat luas, dan pohon Oak ini adalah satu-satunya pohon yang dipertahankan hingga sekarang, karena usianya sudah hampir 1000 tahun, dan letaknya sekarang berada tepat di tengah-tengah cafeteria. Atap sengaja dilubangi sebagai jalan bagi batang oak ini, dan ketika musim gugur, biasanya cafeteria ini akan dihujani sedikit daun-daun pohon Oak.

“Hei, Farhan, sini bergabung bersama kami!” Seru Nick sambil melambaikan tangan kanannya, tangan kirinya menggenggam sandwich selai kacang yang sedikit belepotan. Aku yang sejak tadi terdiam di tengah kerumunan memegang nampan berisi makan siang langsung menghampirinya. Kami berada di barisan barat cafeteria, yang ketika kami melihat ke kanan, pintu kaca transparan langsung menunjukkan kami pemandangan taman kampus yang dipenuhi mahasiswa lain yang sedang membaca buku di rerumputan.

“Kemana saja kau? Padahal kami menantikan kamu.” Ucap Nick kemudian melahap sandwich selai kacangnya.

“Yeah, kami ingin menanyakan banyak hal tentang negaramu, kami dengar disana Negara dengan biodiversitas tertinggi di dunia, aku membayangkan apakah aku bisa menemukan Penyu Belimbing disana, kudengar dia bermigrasi di sepanjang laut Indonesia.” Geraldine si gadis pirang melanjutkan pembicaraan.

Aku menghela napas, “Bolehkah aku melahap makananku dahulu? Aku lapar sekali.” Aku membuka bungkus kentang gorengku, junk food untuk minggu ini dan aku berjanji ini yang terakhir, “Aku mengerti kalian sangat penasaran, dan dengan senang hati aku menceritakannya kepada kalian, ucapku sambil kemudian memasukkan beberapa potong kentang ke mulut.

Nick, Geraldine, Hamman dan Alba mengangguk antusias. Mereka melanjutkan makan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s